Saya tadi sedang kelayapan di dunia antah-berantah, kemudian menemukan tautan dari sebuah website dari Belanda yang menyimpan banyak foto-foto dari jaman kolonialisme.
Iseng saya masukkan kata kunci “grobogan”, nama kabupaten tempat orang tua saya tinggal, dan kagetlah saya karena ada 28 foto yang muncul di halaman tersebut. Dan yang paling bikin saya penasaran adalah munculnya foto sebuah candi dengan keterangan “Tempel te Soekoeh bij Poerwodadi” atau “Candi Sukuh di Purwodadi”.

Saya jadi penasaran, jangan-jangan orang Belanda ini salah dalam memasukkan kategori foto atau mungkin dahulu kala negatif fotonya tertukar dengan dokumentasi perjalanannya ke Tawangmangu? Atau bisa jadi ada cerita berbeda mengenai candi ini yang tidak saya ketahui.
Saya telah meninggalkan komentar di halaman tempat foto tersebut ditampilkan, semoga ada balasan.
Note: gambar di atas merupakan screenshot layar dari tampilan halaman ini, foto Candi Sukuh pada tahun 1930.
Saya termasuk manusia dengan sistem navigasi jelek. Meskipun telah melewati suatu jalur berkali-kali –apalagi kalau nebeng atau mbonceng– tidak akan menjamin bahwa saya ingat jalan tersebut, terlebih lagi jika di tempat-tempat baru. Karena itu saya sangat menggemari teknologi positioning karena teknologi tersebut sangat membantu saya.
Asyiknya, saya tidak butuh perangkat GPS mahal-mahal untuk memanfaatkan teknologi positioning tersebut. Saya cukup menggunakan ponsel yang diinstal Google Maps di dalamnya dan saya ready to go. Bahkan ponsel tidak perlu ada modul GPS di dalamnya, bisa segala jenis ponsel selama bisa diinstal Google Maps karena Google Maps menggunakan teknologi Location Based Service.
Kemudian beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan modul GPS merk i-GotU dari My Digital Life sebagai hadiah kuis. Perangkat ini hanya berfungsi sebagai data logger dan modul GPS, jadi sama sekali tidak ada layar untuk melihat-lihat sesuatu. Tombolnya saja cuma satu, bulet gede di tengah 
(more…)
Pada hari Sabtu pagi kemain, sekitar jam 03.00 saya berangkat ke Kaliurang, nyusul beberapa teman yang sudah datang sejak sore sebelumnya. Namun ketika sampai villa tempat mereka menginap, ternyata tidak ada orang samasekali dan villa dalam keadaan terkunci. Info yang saya dapatkan via sms adalah mereka sedang jalan-jalan malam ke Goa Jepang yang tidak jauh dari villa tersebut.
Daripada sendirian di villa, saya putuskan untuk menyusul mereka. Tadinya berpikir untuk mengendarai motor saja, namun rasanya terlalu berisik di pagi sebuta itu. Jadinya motor saya parkir di villa, baru kemudian jalan kaki menuju lokasi Goa Jepang. Namun yang menjadi masalah adalah saya tidak mengetahui kemana arah menuju Goa Jepang dari tempat saya berada!
(more…)
Selama ini saya lumayan sering main beberapa game yang ada obyek berupa rumah, rumah tersebut bisa diputar (rotate) sesuai keinginan saya. Maksudnya agar lebih menarik, menghadap jalan atau karena alasan lainnya.
Nah, besok saya akan memutar rumah lagi. Tetapi kali ini rumah beneran. Jadi rumah orang tua saya akan diputar, dari menghadap ke utara menjadi menghadap ke barat. Alasannya karena pekarangan rumah yang dulunya luas sekarang ditempati oleh rumah Mas Wik, kakak saya. Jadi rumah akan diputar agar menghadap ke jalan kecil yang ada di sebelah barat rumah saya.
Tentu saja memutarnya tidak semudah klik suatu menu lalu pilih menu rotate. Butuh beberapa manusia untuk menurunkan genteng, melepas papan-papan dinding baru kemudian memutar kerangka rumah dan memasang kembali papan-papan dan genteng rumah.
Rasanya tidak sabar menunggu beberapa jam lagi, saya akan pulang ke rumah orang tua untuk memutar rumah dan menengok sapi.
Impian saya untuk kembali ke Cakra Surya, akhirnya kesampaian juga. Hal itu bermula ketika Kenz mengajak jelatawan-jelatawati Cahandong untuk naik ke Gunung Lawu dalam rangka tujuhbelasan, tanggal 16-17 Agustus kemarin.
Nyaris berakhir di inbox, akhirnya saya berangkat berdua bareng Peri Kecil (ihiiiy) pada tanggal 16 Agustus. Rencana berangkat pagi gagal karena belum mendapatkan kompor gas juga beberapa logistik lainnya. Niatnya kami akan ketemu dengan Kenz di Cemoro Kandang karena dia berangkat dari Solo.
Tanpa perlu menceritakan panjang lebar rute perjalanan dari Jogja ke Tawangmangu, akhirnya kami sampai di Cemoro Kandang. Kami mampir di warung Mas Aris –yang legendaris– untuk sekedar mengisi perut sebelum memulai perjalanan panjang.
Satu porsi rica-rica dan satu porsi pecel cukup mengenyangkan, ditutup dengan segelas teh panas manis.
Di situ kami mencoba menghubungi Kenz, tapi ternyata hape kami tidak menerima satu sinyal pun. Akhirnya kami memutuskan naik dengan harapan ketemu Kenz di suatu tempat di atas gunung. Sekitar jam 16.30 WIB kami melapor ke basecamp dan memulai perjalanan.
(more…)
Sudah lama saya mencari game padanan Harvest Moon yang bisa dijalankan di PC, tetapi sampai sekarang belum menemukan yang tingkat keasyikannya mendekati Harvest Moon versi PSX. Satu-satunya cara untuk menikmati game ini di PC adalah menggunakan emulator.
Sayangnya ketika emulator saya jalankan, muncul pesan error. Entah emulatornya belum stabil ataukah ada yang salah di file image yang saya buat.
Sepintas mungkin mirip game The Sims, tetapi game The Sims hanya menarik di bagian ‘woohoo’ saja, selain itu membosankan.
Semoga Natsume ada niat untuk membuat game ini agar bisa dijalankan di PC juga, tidak hanya di console.
Bagi beberapa orang, nasi jagung mungkin hanya di makan pada kesempatan tertentu. Misalnya sebagai jajan pasar atau ketika mengunjungi suatu tempat terpencil.
Tapi jaman dulu saya pernah mengalami makan nasi jagung karena hanya jagung yang kuat dibeli oleh masyarakat di kampung saya. Saya lupa berapa harganya, tapi kata ibu harga jagung tidak sampai separuh harga beras perkilonya. Waktu itu umur saya sekitar 8-10 tahun, entah sedang krisis apa. Yang jelas saya kadang mendengar ibu mengeluhkan mahalnya harga beras.
Mulanya jagung digecrek (ditumbuk) di lesung hingga sebesar butiran silica gel yang sering ada di dalam kotak sepatu itu, dicuci dan kemudian direndam selama 3 hari 3 malam. Setelah 3 hari lalu dipususi (dicuci) sampai bersih dan dikukus menggunakan kukusan (anyaman bambu berbentuk kerucut) dan dandang (seperti panci namun tinggi) tembaga. (more…)
Gambar di samping bukanlah gabungan antara film Star Trek dengan serial Heroes, melainkan benar-benar gambar dari film Star Trek terbaru yang dijadikan cover story majalah Entertainment Weekly. Munculnya wajah Sylar di film Star Trek tak lain adalah karena Zachary Quinto memang bermain di situ, berperan sebagai Spock.
Kabarnya, syuting film ini dimulai pada bulan November 2007 hingga April 2008 dan dilakukan secara rahasia. Lalu rencana rilis besok pada tanggal 25 Desember 2008. Namun ternyata ditunda hingga bulan Mei tahun 2009 karena Paramount berpendapat bahwa film ini bisa lebih booming jika diluncurkan pada musim panas.
Selain Zachary Quinto, James Kyson Lee yang berperan sebagai Ando Masahi di serial Heroes juga tertarik untuk ikutan syuting Star Trek tapi tidak diijinkan oleh produser serial Heroes. (more…)
Saudara-saudari sekalian, kali ini saya akan mencoba menulis tentang bahasa-bahasa dan aksara-aksara di masa lalu, yang konon kabarnya merupakan bahasa/aksara para dewa. Perlu saya tekankan bahwa semua ini berdasar penelitian ngawuriah saya.
Yang pertama adalah bahasa yang digunakan di Mesir kuno. Konon kabarnya tulisan hieroglip itu hanya mengenal huruf konsonan saja. Yang membuat rentetan kata-kata tersebut bisa dipahami adalah simbol yang mengikutinya.
Misalkan rangkaian huruf KCNG, jika di belakangnya terdapat gambar tumbuhan maka akan dibaca KACANG sedangkan jika diikuti dengan gambar hewan maka akan menjadi KUCING. (more…)

Tokoh pada gambar di atas, bernama Borneo. Bukan nama asli pastinya, namun dia pernah menunjukkan kartu nama ke saya. Kartu nama itu, entah dia nemu dari mana. Kemudian seluruh tulisan yang ada dia coret, dan di halaman sebaliknya –yang kosong itu– dia tulisi “Borneo, Rumah: Kalimantan”, dan dengan bangganya mengaku bahwa itu kartu nama dia, tentu saja saya hanya tersenyum.
Kemudian dia minta dibeliin nasi di angkringan tugu. Dan saya tak mampu menolaknya, saya belikan dua bungkus dan kemudian dia pergi.
Bagi yang sering nongkrong di angkringan tugu 1-2 tahun yang lalu, pasti mengenal sosok ini. Kadang dia mengamen menggunakan seruling. Kalau belum dikasih recehan atau ditolak, dia akan melanjutkan meniup alunan seruling maut, asal tiup dan yang penting bunyi.
Kadang kalau sudah jengkel, dia akan meniup seruling dengan hidungnya. Dan entah bagaimana caranya, bunyinya juga cukup nyaring
Setahunan terakhir, saya tak lagi pernah melihat dia. Entah pergi, entah dibersihkan oleh Pemkot.